Sleman (30/01)- Karantina Pertanian Yogyakarta melakukan pemusnahan terhadap 184, 87 kilogram media pembawa OPTK dan 67,35 kilogram media pembawa HPHK dengan disaksikan oleh perwakilan dari stake holder terkait.

Adapun 184,87 kilogram media pembawa OPTK tersebut berupa buah segar, media pembawa lain (beras), bibit/benih tanaman dan umbi lapis.
Media pembawa OPTK tersebut dikenakan tindakan pemusnahan karena melanggar UU No. 21/2019, PP No. 14/2012, Permentan No. 42/2012 dan Permentan No. 15/2017.

Sebanyak 67,35 kilogram media pembawa HPHK terdiri dari produk hewan( sosis, bakso, nugget, daging babi, daging babi olahan, daging sapi olahan, dan telur ayam kampung), bulu burung merak dan urine kelinci. Media pembawa HPHK tersebut dikenai tindakan pemusnahan karena melanggar UU No. 21/2019, PP No. 82/2000, Permentan No. 17/2016 dan Permentan No. 34/2016.

Media Pembawa OPTK disemprot dengan desinfektan untuk selanjutnya dihancurkan menggunakan mesin (buah segar dan umbi lapis) sebelum direbus dan dikubur. Sedangkan untuk media pembawa HPHK, untuk daging dilakukan perendaman dalam soda api, kemudian dimasukkan ke dalam lubang tanah bersama produk hewan lainnya dan ditambahkan desinfektan dan EM4 sebelum ditimbun dengan tanah.

Pemusnahan media pembawa OPTK dan HPHK ini melibatkan beberapa instansi, antara lain: Intelkam Polres Sleman, Bea & Cukai Yogyakarta, maskapai Silk Air, maskapai Air Asia.

Pemusnahan media pembawa merupakan agenda rutin yang dilakukan setiap bulan. Petugas Karantina memastikan bahwa tidak ada media pembawa OPTK atau HPHK berbahaya keluar atau masuk wilayah Indonesia khususnya Yogyakarta dengan menjamin tegaknya pelaksanaan perundangan karantina.

#laporkarantina
#karantinapertanianyogyakarta