Sleman (05/12)- Adanya beberapa masalah terkait lalu lintas hewan dan merebaknya beberapa penyakit eksotik memerlukan respon yang cepat dari beberapa instansi, khususnya yang membidangi Keswan dan Kesmavet. Focus Group Disccusion dan audiensi dengan beberapa stakeholder maupun pengguna jasa sudah pernah dilakukan. Karantina Pertanian Yogyakarta berinisiatif untuk menindaklanjutinya dengan menyelenggarakan temu Koordinasi bersama instasi yang membidangi Keswan dan Kesmavet khususnya wilayah DIY dan Jawa Tengah.

Temu Koordinasi kali ini berfokus mengenai lalu lintas unggas khususnya DOC dan merebaknya penyakit African Swine Fever. Acara ini dihadiri oleh 55 peserta yang berasal dari UPT Badan Karantina Pertanian (Karantina Yogya, Karantina Semarang, Karantina Cilacap, Karantina Surabaya dan Karantina Bangkalan), BBVET WATES, Balai Veteriner Boyolali dan Dinas Pertanian lingkup DIY Jawa Tengah ( Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul, Kota Yogyakarta, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Surakarta, Magelang, Temanggung dan Sragen).

Temu Koordinasi ini menghadirkan narasumber Prof. Charles Rangga Tabbu, M.Sc., P.hD. yang merupakan pakar dan praktisi keunggasan. Narasumber kedua adalah drh. Amir Hassanudin, M.M. yang merupakan Kepala Bidang Keamanan Hayati Hewani Pusat Karantina Hewan, Badan Karantina Pertanian.

Prof. Charles Rangga Tabbu, M.Sc., P.hD. memaparkan mengenai program kesehatan unggas, ruang lingkup program kesehatan unggas, penyakit pada unggas dan strategi penanganan status penyakit unggas. Adapun drh. Amir Hassanudin, M.M. memaparkan mengenai kebijakan dan operasional Badan Karantina Pertanian dalam mencegah masuk dan tersebarnya African Swine Fever.

Pengawasan lalu lintas hewan dan kewaspadaan terhadap masuknya ancaman penyakit ekstotik menjadi tanggung jawab bersama. Selanjutnya perlu dilakukan koordinasi berkesinambungan untuk penanganan masalah yang melibatkan beberapa instansi terkait.

#laporkarantina
#karantinapertanianyogyakarta