Sleman (6/9) Salak merupakan buah eksotis Sleman yang selama ini telah menembus pasar Asia yaitu Cina dan Kamboja. Citarasa istimewa salak pondoh Sleman membuatnya menjadi unggulan. Uniknya, rasa manis salak pondoh Sleman akan berubah apabila ditanam di daerah lain. Rupanya kandungan unsur hara dari abu vulkanik gunung Merapi membuat rasanya menjadi istimewa dan tidak dapat ditiru salak daerah lain.

Pada Tahun 2019 volume ekspor salak pondoh Sleman mencapai 668 kilogram. CV. Mitra Turindo merupakan salah satu eksportir buah salak pondoh Sleman. Setelah menembus pasar Asia, akhirnya CV. Mitra Turindo mendapat kepercayaan pembeli dari Kanada. Pada ekspor perdana kali ini dilepas 14 krat salak pondoh dengan berat 131 kg senilai 12,8 juta rupiah. Perjalanan buah salak ke Kanada diperkirakan membutuhkan waktu selama 4 hari, sehingga salak yang siap dikirim memiliki kematangan 50-60%. Pemeriksaan fisik telah dilakukan pada salak pondoh tersebut sehingga dipastikan bebas dari OPTK khususnya lalat buah.

Pelepasan ekspor perdana salak pondoh ke Kanada dihadiri oleh Kepala Karantina Yogya; Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman; Camat Kecamatan Turi dan anggota Kelompok Tani Mitra Turindo. Dalam sambutannya Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman menghimbau kelompok tani agar menjaga mutu buah salak dan mempertahankan luas lahan tanam salak. Kepala Karantina Yogya menambahkan bahwa Kementerian Pertanian
mempunyai target agar Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada 2045, sehingga diharapkan kelompok tani untuk lebih bersemangat dalam budidaya salak dan komoditas pertanian unggulan Sleman lainnya.

Selaras dengan semangat AGRO GEMILANG dan Berani Ekspor, Kepala Karantina Yogya juga menghimbau agar ilmu budidaya salak diturunkan kepada generasi selanjutnya dan digunakannya teknologi baik dalam budidaya maupun pemasaran buah salak. Diharapkan salak dapat diterima dengan baik di Benua Amerika, tidak hanya Kanada tetapi juga dapat merambah negara-negara lain di Benua tersebut.

Narasumber:
1. Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Yogyakarta, drh. Ina Soelistyani.
2. Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Ir. Heru Santoso