Sawaddee ka, disambut senyum dan balasan salam sawaddee ka. Pagi ini karantina pertanian Yogyakarta dikunjungi oleh dosen dan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan Walailak University, Thailand. Ditemani oleh drh. Joshua Kristian Adi, dari Fakultas Kedokteran Hewan, UGM. Kegiatan ini untuk mengenalkan bidang pekerjaan dokter hewan karantina (24/6)

Dibuka dengan welcome speech oleh Budi Susilo,SE, Ka. Sub. Bagian TU, dilanjutkan dengan pemaparan mengenai peran dan pekerjaan dokter hewan karantina oleh drh. Nurlia Ardianti , Kepala Seksi Karantina Hewan. Pemaparan singkat merujuk pada UU No. 16 Tahun 1992. “During the quarantine observation, does the owner can visit the animal?” tanya professor Sumalee Boonmai. Nah untuk menjawab pertanyaan ini, Nurlia Ardianti yang menjawab. “Yes the owner can visit the animal everytime during the observation”. Pertanyaannya seputar tindak karantina 8P. Untuk alur tindak karantina ternyata sama dengan di Thailand. Mulai dari pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan, pembebasan.

Setelah pemaparan dan diskusi, kunjungan dilanjutkan dengan field trip area pelayanan karantina dan laboratorium. Antusias mereka ditunjukkan dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan selama melihat alur pelayanan dan laboratorium. Mulai dari ruang pemeriksaan, area front office dengan petugas layanan karantina hewan dan tumbuhan, proses sertifikasi di kantor dan di Bandar udara, sampai pada jumlah dokter hewan yang bekerja di karantina pertanian Yogyakarta

Ada yang menarik di kala kami menyajikan snack. Disuguhi lemper (beras ketan dengan isian daging ayam berbalut daun pisang), mereka menyampaikan bahwa di Thailand juga ada makanan sejenis ini namun berisi pisang. Kalau di Indonesia kita sebut nagasari.

Bisa dibilang hari ini quarantine goes to Thailand. Informasi tentang karantina pertanian Indonesia sampai di lini akademisi Fakultas Kedokteran Hewan Walailak University, Thailand. Bravo Quarantine.