https://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&ved=2ahUKEwjVlKPQ_oPjAhUWVH0KHTEzBCoQjRx6BAgBEAU&url=https%3A%2F%2Fwww.forbes.com%2Fsites%2Fdonaldmarvin%2F2019%2F05%2F06%2Fu-s-pork-industry-works-to-contain-african-swine-fever%2F&psig=AOvVaw39Ega0EfdW6j4dFJGtMCG1&ust=1561529977217915

Ditulis oleh : drh. Herlina Susijanti (Medik Vetriner Madya)

African Swine Fever (ASF) adalah penyakit viral pada babi yang serius dan sangat menular. Penyakit ini disebabkan oleh virus ASF, termasuk dalam genus Asfivirus, family Asfarviridae. Penyakit ini tergolong memiliki risiko kontak yang sangat tinggi (highly contagious), dimana virus ASF memiliki karakter virulensi yang tinggi dan dapat menyebabkan kematian hingga 100%. Virus ASF dapat menyebar sangat cepat dalam populasi babi melalui kontak langsung atau tidak langsung. Virus ASF menjadi endemik pada babi-babi liar, dimana siklus penularan antara babi liar dengan caplak mempersulit eradikasi penyakit ini.

Pertama kali penyakit ASF terdeteksi di Kenya pada tahun 1920-an dan menyebabkan wabah dengan mortalitas 100%. Wabah terjadi akibat kontak antara babi domestik dengan spesies satwa liar, terutama warthogs (Phacochoerus aethiopicus dan Phacochoerus africanus). Sumber infeksi diidentifikasi sebagai suatu virus yang dibawa oleh warthogs yang tidak menunjukkan gejala klinis. Di negara-negara wilayah Afrika timur dan selatan, virus ASF bersirkulasi pada hospes satwa liar untuk jangka waktu lama, sehingga ASF merupakan penyakit syang menyebabkan masalah serius di beberapa negara Afrika.

Penyakit ASF memiliki masa inkubasi 3 hingga 15 hari, dimana pada infeksi dengan titer tinggi periode masa inkubasi menjadi lebih pendek. ASF memiliki gejala klinis antara lain; kematian tiba-tiba dengan sedikit gejala klinis, demam dengan suhu tinggi (>41°C), nafsu makan turun, lesu, sianosis, inkoordinasi gerakan, hemoragi pada kulit, muntah, diare berdarah dan abortus (terkait demam dengan suhu tinggi). Beberapa penyakit dapat menjadi diagnosis diferensial dari ASF antara lain; Hog Cholera, PRRS akut, Salmonellosis, Salmonellosis dan sebagainya.

Dengan adanya penyebaran penyakit ASF yang sangat cepat, diperlukan peran yang bersinergi antara Kementerian Pertanian, Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan, peternak dan masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian penyakit ASF. Diperlukan adanya peningkatan pengawasan terhadap importasi babi dan produknya oleh Karantina Pertanian. Didukung dengan sosialisasi penyakit ASF serta penerapan biosekuriti oleh peternak untuk mencegah penyebaran penyakit.