Dialah Toro, mahasiswa salah satu universitas di Yogyakarta asal Toraja yang sudah beberapa kali kirim sampel kopi ke beberapa negara. Masih muda tapi sudah berpikir jauh kedepan. .
Berbekal kebun kopi milik keluarganya di Toraja, dan hubungan dengan teman-temannya yang berada di luar negeri, ekspor kecil-kecilan biji kopi pun mendatangkan peruntungan yang besar.
.
Green beans Toraja Pulu-Pulu, ini adalah nama biji kopi yang hendak dikirim ke Macau SobatQ…
.
Ada yang tau kenapa namanya Toraja Pulu-Pulu? Toraja adalah nama kecamatan dan Pulu-Pulu adalah nama desa asal biji kopi tersebut.
.
Lima kilogram biji kopi ini bernilai sekitar Rp. 3.000.000,-, tidak banyak, tapi sebagai awal untuk memperkenalkan kopi asli Indonesia hasil kebun sendiri.
.
Sebelum di terbangkan ke Macau, media pembawa biji kopi ini diperiksa oleh Palupi Murnaningsih, petugas Karantina Pertanian Yogyakarta untuk pastikan kesehatannya bebas dari OPT/K. Kesesuaian berat, jenis dan bebas serangga hidup untuk diterbitkan surat kesehatan karantina. “Kopi termasuk komoditas yang sering dilalulintaskan, baik sudah di roasting atau belum” ujar Palupi.
.
“Biayanya berapa bu untuk karantina?” tanya mas Toro, “Rp. 5.000,- untuk satu sertifikat kesehatan, silahkan bayar di kasir dan untuk cek biaya lainnya bisa cek di website kami di Permentan 35 tahun 2016” jawab Palupi.
.
SobatQ, Mas Toro satu dari sekian banyak generasi milenial yang mencoba peruntungan ekspor komoditas asli Indonesia. Banyaknya komoditas ekspor Indonesia mulai dari rempah-rempah, kopi, gula semut, anyaman dan lainnya, adalah peluang bagi generasi milenial yang berpikir maju.
.
Namun jangan lupa untuk selalu lapor karantina sebelum melalulintaskan komoditas tersebut dan kami siap membantu sukseskan akselerasi ekspor Indonesia.
.
#KarantinaPertanianYogyakarta
#LaporKarantina