https://www.researchgate.net/profile/Samoul_Oeurn2/publication/288380543/figure/fig2/AS:311486795796481@1451275647570/A-B-Rot-symptom-caused-by-Bipolaris-cactivora-on-the-dragon-fruit-C-E-Conidia-D.png

Plant Pathology & Quarantine Journal 2(1), 31-35, doi 10.5943/ppq/2/1/5

He PF 1, 2, Ho H3, Wu XX1, Hou MS2, He YQ1*

1Key Laboratory of Agricultural Biodiversity and Pests Control, Ministry of Education, Yunnan Agricultural University(YAU), Kunming 650201, China

2Department of Plant Pathology, Faculty of Plant Science and Technology, Huazhong Agricultural University, Wuhan 432700, China

3Department of Biology, State University of New York, New Paltz, NY 12561, USA

Pada tahun 2009, penyakit baru pada buah naga impor (Hylocereus undatus) telah ditemukan di pasar buah Kunming, Propinsi Yunnan China. Gejala-gejalanya meliputi  buah berair,yang selanjutnya terdapat  tepung hitam sampai busuk lunak . Patogen penyakit ini diidentifikasi sebagai Bipolaris cactivora dan uji patogenisitas telah  diperkuat melalui postulat Koch. Hal ini merupakan laporan pertama bahwa B. cactivora menyebabkan busuk buah buah naga yang diimpor dari Vietnam. Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan karantina untuk lebih waspada terhadap patogen tersebut.

Kata kunci – China – fungal pathogen – plant disease – Yunnan – Vietnam

Pengantar

Buah naga, juga dikenal sebagai strawberry pear atau pitaya merupakan anggota Kaktus (Cactaceae). Salah satu spesies,  Hylocereus undatus (Haw.) Britt. & Rose banyak ditanam di Vietnam, Spanyol,  Malaysia, Jepang, Meksiko dan daerah tropis serta subtropis lainnya karena kandungan gizi yang tinggi dan berkhasiat sebagai obat (Reyes 1995,  Rodriguez 2000). Dalam beberapa tahun terakhir, telah diperkenalkan ke Hainan,  Guangdong,  Fujian,  Guangxi,  Guizhou,  Yunnan dan provinsi Sichuan Cina. Berbagai penyakit telah dilaporkan pada buah naga dan tanaman di negara-negara tropis dan subtropis,  seperti antraknosa (Gloeosporium sp.) (Masanto et al. 2009a),  layu (Fusarium oxysporium),  busuk batang (F. semitectum,  F. oxysporium,  F . moniliforme) (Hawa et al. 2010),  hawar batang (Diplodia sp.,  Ascochyta sp. dan Phoma sp.),  busuk lunak (Erwinia sp.,  Enterobacter cloacae) (Masanto et al. 2009b),  kanker (patogen belum diketahui),  penyakit kudis (bakteri) (Yuan et al. 2004),  bercak hitam (Alternaria sp.),  bercak hawar (Nectriella sp.),  (Wang et al. 2007),  bercak coklat (Botryodiplodia sp.),  busuk basal (Pythium sp.) (Lin et al. 2006) dan luka batang (Septogloeum sp.) (Zheng et al. 2009). Jurnal ini menyajikan penyakit busuk buah baru pada buah naga yang diimpor dari Kota Ho Chi Minh, Vietnam. Informasi ini akan sangat membantu untuk perbaikan sistem karantina tumbuhan di Cina sejak sebagian besar buah naga diimpor dari Vietnam.

Metode

Buah naga sakit, yang diimpor dari Kota Ho Chi Minh, Vietnam,  dibeli dari pasar buah Kunming. Buah dengan gejala bintik-bintik hitam yang terinfeksi spora dalam jumlah banyak (Gambar 1B). Spora tunggal diisolasi dengan jarum steril dibawah mikroskop binokuler pada pembesaran 200x kemudian ditanam pada media Potato Sukrose Agar (PSA) yang diinkubasi pada suhu 28oC selama 3-4 hari.

Table 1 Growth rate of Bipolaris cactivora on different media as measured by colony diameter (cm)

Incubation days OSA PSTA PSA PDA PMA V8A PLA
1 1.42 Bb 1.46 Bb 1.58 Aa 1.70 Aa 1.42 Bb 1.25 Cc 1.38 BCb
2 2.53 DEd 2.72 CDc 2.97 Abb 3.24 Aa 2.89 BCb 2.21 Ee 2.53 Dcd
3 3.79 CDd 3.92 Cc 4.43 Bb 4.75 Aa 4.41 Bb 3.03 Ee 3.64 Dd
4 4.83 Bc 5.05 Bc 5.90 Ab 6.24 Aa 5.74 Ab 3.85 Cd 5.20 Bc
5 6.04 Bd 6.27 Bcd 7.21 Ab 7.58 Aa 7.17 Ab 4.73 Ce 6.27 Bc
6 7.10 Bc 7.70 Bb 8.58 Aa 9.00 Aa 9.00 Aa 5.66 Cd 7.40 Bbc

** the different lowercase letters are significant at α=0.05 level, the different capital letters are the most significant at α=0.01 level.

 

Pada hari ketiga setelah inokulasi, muncul bercak kecil berwarna cokelat muda pada permukaan buah yang diinokulasi dengan biakan spora yang diambil  langsung dari buah sakit (Gambar 1A). Secara bertahap,  bercak berkembang menjadi berair hingga membentuk  cekungan luka dengan tepung hitam yang tebal. Luka diperluas ke luar dengan tepi dengan warna kuning muda dan menyatu,  yang pada akhirnya menghasilkan busuk lunak buah. Patogen ini diidentifikasi dengan biakan dan karakteristik morfologinya.

Jamur ditumbuhkan dalam petridish diameter 90 mm, pada tujuh media agar dengan sumber karbon yang berbeda yaitu: potato dextrose agar (PDA),  potato sukrosa agar (PSA),  oat sukrosa agar (OSA),  agar V8 (V8A),  potato maltosa agar (PMA),  tepung kentang agar (PSTA) dan kentang laktosa agar (PLA). Setiap plate agar diinokulasi dengan miselium disc yang berukuran 5 mm dan diinkubasi pada suhu 28°C selama 6 hari. Pertumbuhan jamur diamati dengan cara mengukur diameter koloni selama 6 hari dan setiap perlakuan (media kultur) diulang 5 kali.

Patogenisitas jamur diuji pada buah naga dan kaktus pir berduri (Opuntia stricta) sehat yang dipanen dari China. Buah naga tanpa dilukai, buah naga dilukai serta kaktus pir berduri yang dilukai dengan jarum steril, kemudian masing-masing diinokulasi di permukaannya dengan miselium disc berdiameter 5 mm dan diinkubasi pada 28 ºC. Buah diletakkan dalam gelas beker dengan bagian bawah dilapisi dengan kertas tissue dan disegel dengan film plastik untuk mempertahankan lingkungan sehingga kelembaban  relatif tinggi. Dua sampai tiga hari setelah inokulasi, gejala muncul dan patogen itu kembali diisolasi dari bagian tepi luka/bercak. Sebagai kontrol, buah naga dan tanaman kaktus diinokulasi dengan piringan agar PDA biasa (tanpa patogen).

 

HASIL

Karakteristik morfologi dari jamur

Koloni jamur pada medium PDA terlihat kuning transparan hingga hitam menyeluruh. Hifa muda tampak  hialin sedangkan hifa tua dan matang lebih menyempit, kecoklatan dan membentuk sklerotium (Gambar 1 Dihasilkan banyak microsclerotia hitam di lingkaran. Konidiofor berwarna cokelat muda sampai coklat kuning, lurus atau flexuous, berukuran 4,4-7,9 um 62,7-254,9 × (av . 137,2 × 5,8 m) dan seringkali membengkak pada ujung dan di dasar (Gambar 1D). Mereka membentuk koloni pada buah sakit. Konidia, masing-masing dengan hilum di basal, yang lurus, ellipsoidal, fusiform atau obclavate, 2-4 septate, pucat cokelat muda sampai cokelat (Gambar 1E) dengan ukuran 29,5-46,9 × 8,2-14,0 m (av. 35.2 × 10.3μm). Pengukuran berdasarkan 110 sampel yang diambil secara acak.

Karakteristik biakan jamur

Koloni diukur setiap hari sepanjang dua garis lurus yang ditarik melalui pusat koloni. Tingkat pertumbuhan tercepat terdapat media PDA, menengah hingga lambat terdapa pada media PSA, dan dalam urutan menurun, pada PSTA, PLA, OSA dan V8A (Gambar 2, Tabel 1). Koloni pada media PDA terdiri dari _ miselia udara berwarna pucat hingga hitam. Miselia yang tumbuh pada media PDA lebih segar dan halus  dari pada media lainnya. Pada OSA, koloni berwarna keputihan sampai kecoklatan, dengan sedikit miselia udara. Pada V8A, miselium udara berwarna putih ke abu-abuan.

 

Gambar. 1 A. Buah naga (Hylocereus undatus) dengan gejala busuk buah yang disebabkan oleh Bipolaris cativora. B. Spot tepung hitam dari buah yang terinfeksi dan menunjukkan produksi konidia yang berlimpah. C. Mycelia dari Bipolaris cativora (tanda panah menunjukkan sel membentuk sklerotium). D. Conidiophora dan  konidia (tanda panah menunjukkan conidiophora). E. Konidia Bipolaris cativora. Skala Bar = 50μm.

Patogenisitas

Buah naga dan kaktus pir berduri menunjukkan gejala penyakit 2-3 hari setelah inokulasi, hal ini menunjukkan bahwa jamur adalah patogen (Gambar 3). Awalnya, disekitar tempat inokulasi muncul luka berwarna kecoklatan kebasahan , dan secara bertahap menjadi hitam pada hari ke 5-7 setelah inokulasi. Namun, penyakit itu lebih parah pada buah terluka dari pada buah yang tidak dilukai (Gambar 3 _, B). Patogen tersebut diisolasi ulang  dari buah naga dan kaktus, kemudian ditanam pada media PDA lagi. Dalam penelitian ini diharapkan mendapatkan jamur dengan morfologis yang identik dengan jamur yang diisolasi dari buah yang terinfeksi.

Pembahasan

Berdasarkan karakteristik morfologi dan biakannya , cendawan ini mirip dengan yang  diidentifikasi sebagai Bipolaris cactivora (Petrak) Alcorn (Taba dkk. 2007). Patogenisitas untuk buah naga dan kaktus pir berduri ini diuji dengan postulat Koch. Jamur ini sebelumnya telah dilaporkan menyebabkan busuk lunak pada buah naga di Taiwan (Wang & Lin, 2005), Jepang (Taba dkk. 2007), South Florida (Tarnowski et al. 2010) dan yang paling baru dari kabupaten Zhanjiang Provinsi Guangdong, China (Liu et al. 2011), sedangkan bercak buah dan batang busuk buah naga disebabkan oleh B. cactivora telah dilaporkan di Israel (Israel et al. 2011). laporan pertama yang menyebutkan ada penyakit ini di Provinsi Yunnan dikaitkan dengan buah naga yang diimpor dari Vietnam. Karena Provinsi Guangdong berdekatan dengan Provinsi Yunnan, dapat dibayangkan bahwa buah naga sakit di provinsi itu juga datang dari Vietnam. Hampir semua buah naga dikonsumsi di Cina Selatan berasal dari vietnam.

Semenjak China- tergabung dalam Zona Perdagangan Bebas ASEAN pada tahun 2010, maka produk pertanian lebih banyak dan mudah ditransfer antar negara (Zhang et al. 2011). Buah-buahan tropis, termasuk buah naga, akan diimpor ke Cina dalam skala besar. Hal ini penting untuk memahami hama dan penyakit yang terjadi di tempat asal , sehingga tidak menjadi masalah bagi pertanian Cina di masa depan. Meskipun penyakit ini belum dilaporkan di Vietnam, di mana buah sakit berasal dari buah impor, tetapi kemungkinan sudah membawa/terinfeksi spora jamur yang kemudian dapat berkembang di China ketika kondisi menguntungkan bagi perkembangan patogen tersebut. Pada suhu yang optimum untuk perkembangan patogen, penyakit ini dapat menyebabkan seluruh buah membusuk sepenuhnya dalam 10 hari. Oleh karena itu, penelitian ini sangat signifikan dan sangat perlu tindakan karantina untuk lebih waspada terhadap buah naga yang diimpor dari Vietnam.