https://s.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/ilustrasi-panen-jagung-_190122113038-519.jpg

(Fery Purnawati, SP, M.Si) Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia, mengingat komoditas ini mempunyai fungsi multiguna, baik untuk konsumsi langsung maupun sebagai bahan baku utama industri pakan serta industri pangan. Selain itu, pentingnya peranan jagung terhadap perekonomian nasional telah menempatkan jagung sebagai kontributor terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) setelah padi dalam subsektor tanaman pangan
(Deptan 2005). Menurut Balitsa (2013), jagung merupakan komoditas ekspor Indonesia yang menduduki urutan kelima untuk jagung segar dan keenam untuk jagung olahan.

Dari segi ekspor, Indonesia masih jauh ketinggalan dari negara lainnya, yaitu pada peringkat ke-63 dengan nilai ekspor sebesar US$ 9,46 juta pada tahun 2011. Perbandingan ekspor Jagung di Dunia pada tahun 2011, terlihat bahwa Amerika Serikat merupakan pengekspor jagung yang paling besar dengan jumlah ekspor sebesar US$ 13,98 milyar (41%) pada tahun 2011. Di tempat kedua, menyusul Argentina dengan nilai ekspor sebesar US$ 4,52 milyar (13%) pada tahun yang sama. Di tempat ketiga ada Brazil dengan nilai ekspor sebesar US$2,72 milyar (8%), di tempat keempat Prancis dengan nilai ekspor sebesar US$ 2,55 milyar (8%), dan di tempat kelima Ukraina dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,98 milyar (6%) di tahun yang sama (ITPC Osaka 2013).

Salah satu kendala penting dalam upaya pengembangan dan peningkatan produksi jagung yang dihadapi di pertanaman adalah gangguan biotis. Gangguan biotis dapat dikelompokkan menjadi dua golongan besar yaitu gangguan oleh makro-organisme yang dikenal dengan gangguan hama, dan gangguan oleh mikro-organisme yang disebut sebagai gangguan penyakit. Mikro-organisme penyebab penyakit pada jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga golongan yaitu cendawan, bakteri, dan virus. Salah satu dari tujuh jenis penyakit yang sering dilaporkan menyerang pada tanaman jagung yang disebabkan oleh cendawan adalah busuk batang. Penyakit busuk batang merupakan penyakit utama kedua pada tanaman jagung setelah penyakit bulai. Penyakit busuk batang jagung
disebabkan oleh delapan spesies cendawan yaitu Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan
Cephalosporium acremonium (Shurtleff 1980)