Kartini Doeloe, Karantinawati Sekarang

Ada yang berbeda di  peringatan Hari Kartini kali ini di Balai Karantina Pertanian Kelas II Yogyakarta. Ada peragawan dadakan yang berlenggak lenggok memakai baju adat Djogja. Diawali dengan senam bersama, lomba adi busana karantinawan dan permainan grab your task, peringatan Hari Kartini Tahun 2018 ini sederhana namun bersahaja.

Pada arahan Kepala Balai, drh. Ina Soelistyani menekankan agar seluruh pegawai dapat meneladani semangat Ibu Kartini yang memperjuangkan hak-hak kaum wanita tanpa melupakan tugas wanita sebagai pendidik bagi putra putrinya.

Di sesi lomba adi busana, kepiawaian peserta mengundang tawa seluruh yang hadir. Keempat peserta dengan gayanya masing-masing, mulai dari terbaliknya motif jarit, peserta yang berputar ketika mengenakan stagen (sabuk jarit) sampai pada lurik yang belum berlubang. Lebih menggelitik lagi ketika keempat peserta berjalan bak peragawan di catwalk. Di sesi grab your task, tidak disangka-sangka, Pak Wagino (THL) membacakan puisi dengan sangat apik. Suara dan penekanannya bikin merinding.

Tema yang diambil tahun ini adalah ‘Kartini Doeloe, Karantinawati Sekarang”. Kartini Doeloe dengan kekuatannya menyamakan hak dan meningkatkan martabat perempuan. Sedangkan Karantinawati sekarang berjuang dengan mencegah keluar masuknya HPHK dan OPTK dengan jam kerja shifting (24 jam), naik turun kapal laut untuk tindak karantina menggunakan tangga monyet, bertugas di perbatasan NKRI, bertugas jauh dari keluarga, sebagai ibu bisa memerah asi dalam kontainer ketika dinas dan tugas-tugas lain yang tak kalah ‘berani’.

Bangga menjadi perempuan Indonesia, bangga menjadi Karantinawati, tulus berdedikasi untuk keluarga dan Negara.