Monitoring Rabies Wilayah Karantina Yogya

Monitoring Rabies Wilayah Karantina Yogya

Karantina Yogyakarta melakukan kegiatan monitoring dan survailan secara rutin di wilayah kerja DIY dan Surakarta. Monitoring dilakukan pada hewan yang beresiko menularkan penyakit rabies. Termasuk anjing konsumsi yang sebagian didatangkan dari daerah tertular, seperti wilayah Jawa Barat.

Etiologi Rabies

Rabies adalah penyakit zoonosis berbahaya dan berdampak kematian pada hewan dan manusia. Penyakit ini memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, hampir 100 %. Meskipun demikian rabies tergolong ke dalam kelompok penyakit yang kurang memperoleh perhatian dalam penanganannya.(Putra,2012)

rabies
http://viralzone.expasy.org/resources/Rhabdoviridae_virion.jpg

Rabies disebabkan oleh virus yang termasuk dalam genus Lyssavirus dari famili Rhabdoviridae. Materi genetik virus tersusun atas untaian rantai tunggal RNA (RiboNucleicAcid). Ada 11 serotipe  dari Lyssavirus yaitu : (1) Virus rabies klasik yang telah menyebar ke seluruh dunia (RABV), (2) Lagos bat virus (LBV), yang ditemukan di Afrika, (3) Mokola rhabdovirus (MOKV), ditemukan di Afrika dan (4) Dhuvenhage rhabdovirus (DUVV) yang ditemukan di Afrika Selatan (5) European bat lyssavirus dibagi dalam 2 tipe yaitu (EBLV 1 dan EBLV 2) yang ditemukan di Eropa dan (6) Australian bat lyssavirus (ABLV) yang ditemukan di Australia (7) Aravan virus (ARAV) (8) Khujand virus (KHUV) (9) Irkut virus (IRKV) dan (10) West Caucasian bat virus (WCBV). (OIE,2013)

Virus rabies bersifat neurotropik berbentuk seperti peluru dengan diameter 70 nanometer dan panjang 130-300 nanometer. Virus rabies sangat peka terhadap zat pelarut lemak (sabun, ether, chloroform, dan aceton), ethanol dan jodium. Virus rabies memiliki lima jenis partikel protein yang berbeda yakni dua protein berada pada amplop (G/Glikoprotein dan M/Matrik protein) dan tiga protein pada nukleocapsid (L/RNA-dependent RNA-polymerase, N/Nukleoprotein, dan P/Phosphoprotein). (Widiasih,2012; Suwarno,2005)

Perjalanan virus ke saraf pusat sangat lambat yaitu : 50-100 mm/perjam sehingga masa inkubasinya bervariasi . Antigen virus rabies tidak mampu menggertak sistem imun sehingga dalam perjalanannya tidak ada antibodi spesifik yang terdeteksi. Sifat ini sangat menjamin patogenesitasnya. (Widiasih,2012)

Hampir semua jenis hewan berdarah panas dan vertebrata rentan terhadap infeksi virus rabies.Derajat kerentanan tiap jenis hewan berbeda terhadap timbulnya penyakit.Rubah dan serigala sangat rentan, Kucing, kelelawar, tikus rentan, sedangkan anjing dan primata derajat kerentanan sedang.

Tipe Rabies pada Hewan

Hewan penular rabies (HPR) di Indonesia didominasi oleh anjing (90%), kucing (6%) dan monyet (4%).Anjing berperan sebagai reservoir utama dan sebagai pelestari siklus biologi rabies (maintenance host). (Putra,2012:Widiasih, 2012)

Secara umum ada dua tipe rabies pada hewan yaitu :

  1. Tipe Ganas (Furious Rabies)

Ada tiga fase utama yaitu : prodormal (demam, anoreksia, dilatasi pupil, reflek kornea menurun, eksitasi ( sangat agresif, fotofobia, hipersalivasi) dan paralitik (ekor terkulai, rahang menggantung, paralisis dan mati).

  1. Tipe jinak/tenang (Dumb rabies)

Pada tipe ini hewan mengalami tiga stadium sebelumnya namun intensitas dan durasinya tidak tampak sama sekali. Hewan cenderung diam namun agresif bila diprovokasi. (Putra,2012)

Situasi Penyakit Rabies di Indonesia

Tahun 1884, penyakit rabies pertama kali ditemukan di Indonesia dilaporkan terjadi di Jawa Barat. Tahun 1997, Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY dinyatakan bebas rabies (SK. Mentan. No. 892/Kpts/TN.560/09/1997).Tahun 1998, rabies menyebar di Pulau Flores (SK. Mentan.No. 756/Kpts/TN. 510/1998), tahun 2002 Pulau Flores dan pulau Lembata dinyatakan sebagai kawasan karantina penyakit rabies.Tahun 2004, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten dinyatakan bebas rabies (SK Mentan 556/Kpts/PD.640/12/2004).Tahun 2008, rabies menyebar di Kabupaten Badung Propinsi Bali (SK. Mentan.No. 1637.1/Kpts/PD.640/12/2008). Kemudian tahun 2009, Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Cianjur dan Kota Sukabumi, Propinsi Jawa Barat  dan Kabupaten Lebak Propinsi Banten dinyatakan terjangkit penyakit rabies (SK Mentan No. 3600/Kpts/PD.640/10/2009). Tahun 2010, rabies menyebar di kota Gunung  Sitoli, Pulau Nias. (SK Mentan No. 1242/Kpts/PD.620/03/2010).

Sampai dengan tahun 2010, hanya ada 10 Propinsi yang bebas rabies yaitu : Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Kalimantan Barat, NTB, Papua dan Papua Barat.

(Ditulis oleh : Drh. Tuning Virgayanti dan drh. Adri Susiani – Medik Veteriner BKP Kls II Yogyakarta)