Karantina Yogyakarta melakukan kegiatan monitoring dan survailan secara rutin di wilayah kerja DIY dan Surakarta. Monitoring dilakukan pada hewan yang beresiko menularkan penyakit rabies. Termasuk anjing konsumsi yang sebagian didatangkan dari daerah tertular, seperti wilayah Jawa Barat. Etiologi Rabies Rabies adalah penyakit zoonosis berbahaya dan berdampak kematian pada hewan dan manusia. Penyakit ini memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, hampir 100 %. Meskipun demikian rabies tergolong ke dalam kelompok penyakit yang kurang memperoleh perhatian dalam penanganannya.(Putra,2012) Rabies disebabkan oleh virus yang termasuk dalam genus Lyssavirus dari famili Rhabdoviridae. Materi genetik virus tersusun atas untaian rantai tunggal RNA (RiboNucleicAcid). Ada 11 serotipe  dari Lyssavirus yaitu :

Landak mini dan hamster dari Yogyakarta tujuan ke Pekanbaru dan Balikpapan diperiksa petugas karantina.  Landak dan hamster, banyak digemari menjadi peliharaan kesayangan. Namun untuk pengiriman lintas area harus melewati pemeriksaan karantina. Pemeriksaan Karantina Siang ini, petugas Karantina Yogyakarta di Wilker Adisucipto melaksanakan tindakan berupa pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen.  Surat Keterangan Kesehatan Hewan atau SKKH dari dinas peternakan daerah asal dinyatakan valid. Hasil pemeriksaan fisik hewan dinyatakan sehat , tidak menunjukan gejala klinis penyakit hewan karantina. Jenis dan jumlahnya juga sesuai dengan dokumennya. Namun untuk memastikan hewan bebas parasit dilakukan pemeriksaan feses dengan metode natif. Hasilnya, landak dan hamster bebas terbang ke tujuan. Bravo Karantina Yogyakarta

(18/4) Tim dari DAWR Australia di dampingi oleh jajaran Kementerian Pertanian (Badan Karantina Pertanian, Dirjen Hortikultura, PPHP), Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten DIY serta OKKPD, berkunjung ke Kebun Buah Naga Sabila Farm, Kebun Buah Naga Teguh Farm dan Packing House Buah Mitra Turindo. Kunjungan ini merupakan langkah awal verifikasi buah naga sebagai jalan pembuka ekspor buah naga ke Australia. Dalam field visit kali ini interaksi antara Tim DAWR dengan pemilik kebun dan packing house didampingi Tim Kementerian Pertanian serta dari Dinas Pertanian Propinsi dan OKKPD setempat menitikberatkan pada proses budidaya buah naga, target pest, packing, masa penyimpanan dan proses pengiriman. Kegiatan ini adalah bagian dari inisiasi proses

Tularemia adalah penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh bakteri Francisella tularensis,  yang bersifat gram negatif, non motil, pleomorphic coccobacillus. Bakteri ini sangat virulen  pada manusia serta kelinci dan sejenisnya. Penyakit ini merupakan zoonosis yang berbahaya, karena dapat dijadikan sebagai senjata biologis. Vektor utamanya adalah kutu dan lalat rusa. Manusia dapat terinfeksi melalui gigitan kutu dan lalat rusa, kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, konsumsi air yang terkontaminasi, paparan laboratorium, menghisap debu atau aerosol yang terkontaminasi. Di Indonesia sampai saat ini belum di umumkan adanya penyakit tularemia.Untuk itu perlu kewaspadaan penuh terhadap lalu lintas masuknya hewan eksotis terutama agen penyebab penyakit ini dari negara